| CILUKBA "Kecil-kecil untuk Bapa"
|
 |
 |
CILUKBA
Proyek Filipus untuk Anak di bawah enam tahun
Dapatkah "Anak Baeta" menyambut Tuhan Yesus dalam hidupnya? Ya, DAPAT!
Bagaimanakah cara menjelaskannya dengan benar dalam konteks anak Baeta?
|
|
| RHEMA "Masa Depan Anak Anda"
|
 |
 |
RHEMA
Projek Filipus untuk Anak
Salah satu penentuan masa depan anak yang penuh dengan kebahagiaan adalah "Kecerdasan spiritual"
|
|
| REMODIA "Remaja Yg Oke di hadapan Allah"
|
 |
 |
REMODIA
Proyek Filipus untuk remaja
Ketika menyebut anak remaja pada umumnya kesan yang melekat adalah sosok narkotis, pemberontak, free sex, pornografi, 'amburadul
|
|
| PASCAL "Pemuda Setia Baca Alkitab"
|
 |
 |
PASCAL
Proyek Filipus untuk Kaum Muda/ Mahasiswa
seri "PASCAL" adalah panduan Pemahaman Alkitab untuk Pemuda dan Mahasiswa.
|
|
| REMODIA "Remaja Yg Oke di hadapan Allah"
|
 |
 |
JASIMARU
Proyek Filipus untuk Orang Dewasa (Umum)
Buku JASIMARU ini adalah panduan pemahaman Alkitab bagi perorangan maupun kelompok kecil.
|
|
| ADIMITRA
|
 |
 |
ADIMITRA
Proyek Filipus untuk Pengusaha/Profesional
Seri ADIMITRA adalah panduan pemahaman Alkitab bagi para pengusaha/profesional.
|
|
| BAHTERA
|
 |
 |
BAHTERA
Proyek Filipus untuk Keluarga
Seri BAHTERA (Bahagia dan Sejahtera Keluarga Bersama Allah) adalah panduan pemahaman Alkitab untuk keluarga.
|
|
|
|
 |
 |
YAYASAN SUMBER SEJAHTERA  |
 |

Pribadi Mikha
Mikha tinggal di Morosyet (1:1) – Yehuda Barat, sebuah desa yang agak terpencil. Ia melayani di Yehuda kira-kira abad ke-8 SM. Mikha berarti “Siapa gerangan seperti Yehova”. Meskipun ia tinggal di pedesaan. Mikha cukup mengetahui tentang korupsi yang sudah menjadi kebiasaan di kota-kota kerajaan Yehuda dan Israel. Maka ia memperingatkan Samaria (ibukota Yehuda) bahwa Tuhan pasti akan menghukum kejahatan yang sudah lama dilakukan di tempat itu (1:6, 4:10).
Keadaan Sosial
Dari kedudukannya yang menguntungkan dalam sebuah kampung kecil, dapatlah Mikha melihat ketimpangan-ketimpangan sosial zaman itu dan merasakan penderitaan orang dusun. Para hakim dapat disogok, kaum imam cabul dan bejat, nabi-nabi adalah orang upahan, kaum politisi merampas hak orang miskin. Mereka semua telah membangun tembok permusuhan, ketakutan dan kebencian sehingga menyusahkan kehidupan rakyat kecil (Mikha 2:2; 3:2; 9-11).
Keadaan Agama
Rakyat tidak menghendaki khotbah, kecuali khotbah yang lemah dan hambar, yang tidak berisi tegoran bagi mereka yang hidup dalam dosanya. Sungguh saat yang menyedihkan, bila orang hanya mau mendengarkan khotbah yang sesuai dengan keinginan mereka yang rusak dan mementingkan diri sendiri.
Mikha menggambarkan keadaan seperti itu dalam pasal 2:1, Yesaya yang hidup se-zaman dengannya juga menegur keadaan yang sama (Yes. 30 : 9-11).
Pendalaman Ayat
Dalam pasal ini kaum bangsawan, pemimpin-pemimpin (politisi) ditegur karena akhlak mereka buruk sama sekali dan mereka menindas rakyat. Pada waktu murka Allah turun, mereka memohon dikasihani tetapi tidak akan diperhatikan.
- Ayat 1 - 4 : Pemimpin (politisi) yang korup. Sebenarnya merekalah yang seharusnya mengetahui apa yang adil dan benar serta melakukannya (ayt. 1), tetapi akhlak mereka sudah rusak sama sekali (ayt. 2). Mereka memperlakukan rakyat jelata itu seperti ternak yang dimakan. Rakyat jelata “dikulit’, dipatah-patahkan tulangnya, dipenggal-penggal dan direbus dalam belangga” untuk dimakan (ayt. 3, lihat Yeh. 34:3-5 yang memberi kiasan yang sama). Pembalasan yang adil akan jatuh ke atas mereka yang tidak mau mendengarkan jeritan orang miskin yang berkekurangan.
- Ayat 5 – 7 : Nabi (rohaniawan) palsu yang korup, Nabi-nabi palsu yang bernubuat (khotbah) karena upah atau disuap akan mengalami kehancuran yang digambarkan seperti matahari terbenam yang diikuti gelap gulita karena penglihatan yang sesat dan orang-orang mengikuti mereka merasa malu sekali.
- Ayat 8 – 12 : Nabi Tuhan dan beritanya Mikha yang penuh dengan Roh uhan menyatakan bahwa ia memiliki keberanian untuk menyatakan “kekuatan, kuasa dan keperkasaan” untuk menegur dan menuduh para pemimpin dan para imam yang telah menyengsarakan rakyat akibat korupsi mereka. Mikha bersedia untuk menghadapi resiko karena pemberitaanya tersebut. Setelah Mikha menegur dan menuduh para pemimpin dan imam, ia menyampaikan nubuat yang menakutkan, bahwa Sion, daerah Bait Allah dan seluruh kota itu akan diratakan oleh tanah. Nubuat itu benar-benar terjadi Bait Allah masa itu telah rata oleh tanah dan tinggal puing-puing saja.
Korupsi dalam pemahaman modern
Setelah kita membahas ayat-ayat tersebut di atas, Mikha menyoroti perilaku pemimpin dan imam yang korup, yang telah menyengsarakan rakyat jelata. Bagaimana dengan pemahaman kita terhadap korupsi di abad sekarang ini? Max Weber seorang peletak dasar metodologi ilmu sosial membagi dua perspektif tentang korupsi.
Pertama, dalam perspektif keadilan atau penekanan hukum, korupsi adalah mengambil bagian yang bukan haknya atau perilaku yang menyimpang dari tugas-tugas resmi suatu jabatan secara sengaja untuk memperoleh keuntungan berupa status, kekayaan atau uang untuk perorangan, keluarga dekat atau kelompok sendiri.
Kedua, dari perspektif orang awam, korupsi berarti menggelapkan uang kantor, menyalahgunakan wewenang untuk menerima suap, menikmati gaji buta tanpa kerja secara serius,. Membiarkan perilaku korupsi adalah ibarat seorang menunggang macan. Jika turun bisa saja ia diserap dan dicakar oleh si macan, sebaliknya jika terus ia mungkin saja tak akan bisa mengendalikannya sampai ia tersungkur ke dalam jurang yang lebih dalam.
Pertanyaan Reflektif
- Apakah yang saya pelajari dari Mikha?
- Apakah ada persamaan kondisi sosial saya sekarang dengan zaman Mikha?
- Apakah saya hanya menyenangi khotbah yang lemah lembut dan menyenangkan telingaku saja?
- Seriuskah Tuhan memandang saya jika saya korupsi?
- Apakah saya sudah terbebas dari pola hidup korupsi, baik secara pribadi, keluarga, maupun korps saya?
|
|