
Dikutip dari Buku Proyek FIlipus Adimitra
Setiap orang pasti ingin behasil, baik sebagai pengusaha, karyawan, pekerja maupun Pelayan Pekerjaan Tuhan. Seorang pengusaha pasti menginginkan usahanya berjalan dengan baik dan lancar, banyak pelanggan, pendapatan besar, bukannya ingin hidup miskin dengan usaha apa adanya dan pendapatan pas-pasan. Semua orang ingin mencapai keberhasilan, karena keberhasilan akan memberikan kesejahteraan dan jaminan hidup.
Namun, ada banyak pengusaha yang kurang berhasil, meskipun ia memiliki cukup modal dan keahlian, sebab kurang berpikir positif. Akibatnya banyak kesempatan untuk memajukan usahanya tidak dimanfaatkannya. Itulah sebabnya berpikir positif perlu bagi setiap pengusaha yang ingin usahanya berjalan dengan baik dan berhasil.
Apakah berpikir positif itu? Berpikir positif adalah suatu cara berpikir yang mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang baik dalam situasi yang bagaimanapun. Berpikir positif telah dilakukan sejak jaman dulu oleh tokoh-tokoh yang terkenal karena keberhasilannya. Di bawah ini adalah tokoh-tokoh yang berpikir positif serta pandanganya :
Shakespeare berkata : "Tidak ada baik atau buruk kecuali pikiranlah yang membuatnya demikian". Menurut pandangan ini, pikiranlah yang menentukan apakah sesuatu itu baik atau buruk.
Milton berkata : "Pikiran dapat membuat surga jadi neraka atau neraka jadi surga". Menurut pandangan ini, orang yang berpikir positif dapat membuat kegembiraan meskipun di dalam penderitaan. Sebaliknya orang yang berpikir negatif membuat neraka sekalipun ia berada di sorga.
Disraeli berkata : "Hidup terlalu singkat untuk berpikir kecil dan berbuat hal yang kecil-kecil". Menurut pandangan ini bahwa hidup manusia yang terlalu singkat itu lebih baik digunakan untuk melakukan sesuatu yang besar atau berguna.
Publilius Syrus berkata : "Orang bijak akan menjadi majikan dari pikirannya, orang bodoh akan menjadi budaknya". Menurut pandangan ini, orang yang bijak mampu mengendalikan pikirannya sedangkan orang yang bodoh dikendalikan oleh pikirannya.
David J. Schward berkata dalam bukunya yang berjudul Berpikir & Berjiwa besar" sbb.: Berpikir besar mendatangkan mujizat. Percaya anda dapat berhasil maka andapun benar-benar berhasil. Tujuan hidup adalah keberhasilan. Dalih adalah penyakit kegagalan. Bangunlah kepercayaan dan hancurkan ketakutan. Cita-cita harus tinggi. Berundinglah dengan diri anda untuk memikirkan hal tertinggi. Berpikir jangka panjang. Abaikan kesalahan kecil. Konsentrasi pada kelebihan anda dan jangan minder. Gunakan kosakata atau gaya bahasa pemikir besar (kata positif/menang). Jangan gunakan kata bernada kalah, gagal, sedih, rendah, dll.
Nortmant Vincent Peale berkata : "Seseorang dapat melakukan sesuatu jika ia berpikir bahwa ia mampu melakukannya". Pandangan ini didukung dengan sikap percaya diri, buang rasa takut, jangan pernah berpikir gagal, santai dan memiliki rasa humor, jangan lupa berdoa, percaya sama dengan melihat. Hukum keberhasilan adalah memiliki tujuan yang besar dan jelas, yakin bahwa tujuan itu akan tercapai. Mengharapkan sesuatu dan membuat mujizat. Semua sumber daya yang diperlukan ada dalam pikiran. Singkirkan kata kekurangan, kehilangan dan keterbatasan.
Pandangan-pandangan para tokoh tersebut di atas sedikit banyak mempengaruhi orang Kristen. Banyak pengusaha Kristiani yang berpandangan seperti tokoh-tokoh tersebut. Apakah pandangan-pandangan ini baik? Dimana Tuhan ditempatkan dalam pandangan-pandangan tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus kembali kepada firman Tuhan. Kitab Galatia 2:19-20 menyatakan bahwa tujuan hidup orang Kristen adalah hidup untuk Allah, bukan hanya untuk mendapatkan keberhasilan semata. Apakah artinya orang Kristen tidak boleh berhasil? Tentu saja tidak. Keberhasilan yang kita peroleh adalah berkat dari Tuhan dan kita persembahkan kembali untuk kemuliaan nama Tuhan. Kesuksesan kita bukan prestasi kita sendiri tetapi karunia Tuhan sehingga prestasi terbaik untuk Tuhan. Karena hidup kita untuk Allah, maka segala yang kita lakukan dan terima juga untuk kemuliaan nama Tuhan.
Kitab Filipi 4:13 menyatakan bahwa Allah memberikan kekuatan kepada kita. Oleh karenanya kita bisa bersikap optimis. Optimis bukan berarti mengandalkan kemampuan diri sendiri, melainkan karena Allah memberi kemampuan dan kekuatan untuk mencapai keberhasilan. Seandainya tidak berhasil, kita yakin bahwa Allah memberi yang terbaik untuk kita. Dengan demikian kita tidak memaksa Tuhan untuk mengikuti kemauan kita.
Kegagalan tidak selalu buruk, kadangkala Tuhan memberikan kegagalan agar kita belajar untuk mendapatkan yang lebih baik. Didalam 2 Korintus 12:7-10 Rasul Paulus senang dan rela menderita, karena melalui penderitaan itu kuasa Tuhan dirasakan. Jika bisnis kita berjalan lancar-lancar saja, seringkali kita tidak merasakana kuasa Tuhan yang bekerja bersama kita, tetapi ketika mengalami kegagalan kita dapat lebih jelas merasakan kuasa Tuhan yang menolong dan memulihkan bisnis kita.
Ada kesaksian dari seorang pengusaha Kristen yang perusahaannya pailit. Ia menyadari bahwa ia gagal menjalankan usahanya, namun tidak putus asa. Ia semakin dekat dengan ketekunan dan keyakinan, Tuhan memulihkan usahanya, bahkan berkembang lebih dari sebelumnya.
Kesaksian itu menyatakan bahwa didalam Kristus kegagalan membawa kepada kebahagiaan. Dalam Yakobus 1:2-18 dikatakan bahwa kegagalan itu kadang merupakan ujian iman yang akan menghasilkan ketekunan dan keberhasilan. Kegagalan dan penderitaan tidak identik dengan hukuman dosa (Yohanes 9:2-3).
Bagaimana berpikir positif yang sesuai dengan Firman Tuhan? Tuhan tidak menyukai orang yang pesimis dan hanya mengandalkan kemampuannya sendiri. Berpikir positif bagi orang Kristen merupakan wujud dari imannya. Hal ini berarti seorang Kristen berpikir dan bertutur kata secara positif karena diwarnai oleh imannya, bukan kemampuan dirinya. Oleh karena itu agar dapat berpikir positif yang sesuai dengan Firman Tuhan, maka seorang pengusaha sebaiknya :
1. Menggantungkan hidup dan bisnisnya kepada Tuhan.
2. Mempercayai kebaikan Tuhan dalam hidup dan bisnisnya.
3. Tidak mengeluh melainkan mengucap syukur dalam segala hal.
4. Menggunakan kata-kata yang positif dan penuh kasih untuk membangun.
5. Tidak menyalahkan atau mengutuki diri sendiri.
6. Bersikap optimis realistis sesuai pengajaran Firman Tuhan.
|