CILUKBA "Kecil-kecil untuk Bapa"
CILUKBA
Proyek Filipus untuk Anak di bawah enam tahun
Dapatkah "Anak Baeta" menyambut Tuhan Yesus dalam hidupnya? Ya, DAPAT! Bagaimanakah cara menjelaskannya dengan benar dalam konteks anak Baeta?

~ more ~
RHEMA "Masa Depan Anak Anda"
RHEMA
Projek Filipus untuk Anak
Salah satu penentuan masa depan anak yang penuh dengan kebahagiaan adalah "Kecerdasan spiritual"

~ more ~
REMODIA "Remaja Yg Oke di hadapan Allah"
REMODIA
Proyek Filipus untuk remaja
Ketika menyebut anak remaja pada umumnya kesan yang melekat adalah sosok narkotis, pemberontak, free sex, pornografi, 'amburadul

~ more ~
PASCAL "Pemuda Setia Baca Alkitab"
PASCAL
Proyek Filipus untuk Kaum Muda/ Mahasiswa
seri "PASCAL" adalah panduan Pemahaman Alkitab untuk Pemuda dan Mahasiswa.

~ more ~
Jawaban, Siapa Tuhan Itu?, Temuan Baru
JASIMARU
Proyek Filipus untuk Orang Dewasa (Umum)
Buku JASIMARU ini adalah panduan pemahaman Alkitab bagi perorangan maupun kelompok kecil.

~ more ~
ADIMITRA
ADIMITRA
Proyek Filipus untuk Pengusaha/Profesional
Seri ADIMITRA adalah panduan pemahaman Alkitab bagi para pengusaha/profesional.

~ more ~
BAHTERA
BAHTERA
Proyek Filipus untuk Keluarga
Seri BAHTERA (Bahagia dan Sejahtera Keluarga Bersama Allah) adalah panduan pemahaman Alkitab untuk keluarga.

~ more ~
YAYASAN SUMBER SEJAHTERA

Oleh : Pdt. Andreas Kustono

 Pendahuluan 

Perikop ini adalah kunci dari Khotbah Tuhan Yesus di Bukit dan pada perikop ini Yesus tidak lagi menambahkan perintah, melainkan memastikan tanggapan yang layak bagi para pengikutNya terhadap yang sudah Ia berikan.
Ia mengkritik nabi-nabi palsu, pengajar2 yang tidak becus dan murid2 yang tidak becus juga. Mengapa? Mereka bersalah dalam dua hal.

Pertama mereka mengutamakan pengakuan percaya yang verbal, yang hanya di mulut saya (Matius 7:21-23)

Kedua, Pengakuan percaya yang semata-mata berdasarkan ilmu pengetahuan/intelektual tentang kepatuhan (Matius 7:24-27). Pengakuan semacam ini bukan kepatuhan, tapi kamuflase untuk menyembunyikan ketidakpatuhan.

Yesus mengkonfrontasikan kita dengan diri kita sendiri, menghadapkan kita kepada pilihan yang radikal antara mematuhi-Nya atau tidak mematuhi-Nya, dan memanggil kita mengabdi kepada ajarannya dengan seluruh akal budi, kemauan, serta kehidupan kita.
Pada kepatuhan kita yang radikal untuk mematuhi-Nya itulah tergantung seluruh kehidupan kita yang abadi.

1. Bahaya pengakuan percaya yang hanya verbal (Matius 7:21-23)
Orang-orang yang dilukiskan Yesus dalam ayat ini adalah mereka yang mengandalkan bahwa pernyataan mereka kepada Yesus adalah jaminan keselamatan mereka.
Menurut mereka yang menentukan ialah apa yang mereka katakan kepada atau tentang Yesus. Tapi menurut Yesus hal itu salah, "Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu : Tuhan, Tuhan!.. (Matius 7:21), " Pada hari yang terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan... (Matius 7:22).
Disini Yesus menekankan bahwa kehidupan kita yang abadi tidak ditentukan oleh apa yang kita ucapkan kepada-Nya, melainkan oleh kenyataan apakah kita berbuat sesuai dengan ucapan kita, apakah pengakuan verbal kita dibarengi oleh kepatuhan moral kita. Mengapa pengakuan verbal kita bahwa Yesus adalah Tuhan, harus dibarengi dengan kepatuhan moral?

Pertama, didalam pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan tercermin rasa hormat dan kagum, bukan bermain-main dengan nama itu.

Kedua, Pengakuan Yesus adalah Tuhan "kurios" (Bhs. Yunani) dalam perjanjian baru, menunjukan kepada pengertian Yesus sang hakim yang menyelidiki isi hari setiap manusia.

Ketiga, pengakuan percaya ini berapi-api, bukan suam-suam kuku, dan menarik perhatian ublik pada bobot dan kualitas kesetiaan kepada Yesus.

Patut disayangkan adanya segelintir "Pelayan Tuhan" yang ketika berkhotbah di depan orang banyak nekad mengklaim mereka berbicara atas Nama Yesus dan bahkan melakukan hal-hal spektakuler seperti bernubuat, mengusir setan, dan banyak mujizat yang menakjubkan.
Dan tidak ada alasan untuk meragukan klaim mereka itu, sebab "rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat" akan dikerjakan mereka, dan bahkan oleh Kristus-Kristus palsu dan nabi-nabi palsu (Matius 24:24, 2 Tesalonika 2:9,10).

Klaim mereka tidak salah, namun semuanya keliru karena itu adalah ucapan-ucapan tanpa kebenaran, pengakuan percaya tanpa kenyataan. Apa yang mereka klaim (mengaku percaya) tidak akan menyelamatkan dihari penghakiman nanti.
Yesus berfirman : "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" Sebab meskipun mereka telah memakai nama-Nya dengan bebas, namun Ia tidak tahu siapa mereka itu. Mengapa hal ini terjadi? Karena engakuan percaya mereka hanya verbal,tanpa moral. Hanya dengan mulutnya saja, tapi tidak nyata dalam kehidupan mereka.
Mereka menyebut Yesus 'Tuhan, 'Tuhan' tapi tidak pernah tunduk kepada ketuhanan-Nya. Alasan Kristus Sang Hakim mengenyahkan mereka dari samping-Nya, ialah karena mereka pembuat kejahatan.
Mereka bisa saja mengklaim telah melakukan pelayanan-pelayanan yang hebat, namun perilaku mereka sehari-hari adalah jahat. Misalnya, memakai nama Yesus untuk popularitas, fasilitas, meraup keuntungan, kemapanan, dll.
Perlu kita camkan bahwa Tuhan Yesus tidak terkesan oleh kata2 saleh kita. Ia menuntut bukti kesejatian pengakuan kita dalam perbuatan yang didasari kasih. Berbahagialah hai pelayan Tuhan yang telah dan sedang melakukan perkara2 ajaib dalam nama Yesus, namun tetap sederhana, bersahaja, bahkan miskin dan tidak popular di hadapan manusia.

2. Bahaya pengakuan percaya yang semata-mata berdasarkan pengetahuan/intelektual (Matius 7:24-27)
Dalam Matius ayat 21-23, Yesus mempertentangkan antara orang yang 'mengatakan' dan 'melakukan' perintah-Nya, Ia mempertentangkan antara orang yang 'mendengar' dan 'melakukan' perintah-Nya.
Disatu pihak Yesus menandaskan bahwa ada "orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya (Matius 7:24), dan di pihak lain "Orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya (Matius 7:26).
Lalu Ia mempertentangkan antara pendengar-Nya yang patuh dan yang tidak patuh melalui perumpamaan dua orang yang mendirikan ruah (Lukas 6:46-49) Si Bijaksana menggali dalam-dalam (Lukas 6:48) dan mendirikan rumahnya di atas batu. Si bodoh tidak mau tahu tentang fondasi, dan sudah puas untuk mendirikan rumah diatas pasir.
Nampak dari luar kedua bangunan rumah itu tidak ada bedanya. Hanya ketika turun hujan dan badai menerpa, kedua bangunan rumah itu, barulah nyata bedanya. Sebab rumah yang di atas batu itu mampu bertahan terhadap angin ribut, sedangkan rumah diatas pasir itu runtuh dan rusak berat.

Demikian pula orang Kristen, baik yang sejati maupun yang palsu, kelihatannya serupa, sama-sama ke Gereja, mendengarkan khotbah, membaca buku-buku rohani bahkan sama-sama melayani Tuhan.
Kita sulit membedakannya. Namun ketika badai, krisis atau malapetaka menimpa, tersingkaplah yang sesungguhnya.

Kebenaran yang Yesus cecar dalam ayat2 ini bukan apakah kita telah mendengar, dan mempelajari perkataan-Nya, merenungkan, dan menghafalnya melainkan apakah kita melakuka apa yang telah kita ketahui melalui firman-Nya.
Dengan kata lain, apakah kehadiran Yesus sebagai Tuhan sebagaimana kita akui, menjadi nyata dalam kehidupan kita. Itulah yang terpenting.

 Penutup 

Isu perikop ini yaitu ilihan hidup yang radikal. Yang ditaruh Yesus dihadapan pengikut-Nya bukanlah sebagai sederet aturan etis yang mudah dituruti, melainkan seperangkat nilai dan konsep yang berbeda sama sekali dari yang didambakan dunia.
Ia memanggil kita untuk menolak kebudayaan sekuler dan mengimbanginya dengan kebudayaan Kristiani (Khotbah di bukit). Dunia ini diibaratkan sebagai makanan yang membusuk, penuh dengan kuman2 penyebab disintegrasi; pengikut Yesus harus berfungsi sebagai "garam yang menghentikan proses pembusukan itu. Dunia adalah tempat yang gelap, hidup dalam bayang2 yang kelam; pengikut Yesus harus menjadi "terang" yang mengusir kegelapan dan kekelaman.
Hal ini bisa terjadi jika pengikut Yesus memilih untuk melakukan perkataan-Nya dengan cara mengubah moralnya sesuai dengan pengakuan percayanya dan menjadikan Yesus sebagai realitas dalam hidupnya.