
Oleh : Pdt. Andreas Kustono
Pendahuluan
Perikop ini adalah kunci dari Khotbah Tuhan
Yesus di Bukit dan pada perikop ini Yesus tidak lagi menambahkan perintah,
melainkan memastikan tanggapan yang layak bagi para pengikutNya terhadap yang
sudah Ia berikan.
Ia mengkritik nabi-nabi palsu, pengajar2 yang tidak becus dan murid2 yang tidak
becus juga. Mengapa? Mereka bersalah dalam dua hal.
Pertama mereka mengutamakan pengakuan percaya yang verbal, yang hanya di
mulut saya (Matius 7:21-23)
Kedua, Pengakuan percaya yang semata-mata berdasarkan ilmu pengetahuan/intelektual
tentang kepatuhan (Matius 7:24-27). Pengakuan semacam ini bukan kepatuhan, tapi
kamuflase untuk menyembunyikan ketidakpatuhan.
Yesus mengkonfrontasikan kita dengan diri kita sendiri, menghadapkan kita kepada
pilihan yang radikal antara mematuhi-Nya atau tidak mematuhi-Nya, dan memanggil
kita mengabdi kepada ajarannya dengan seluruh akal budi, kemauan, serta
kehidupan kita.
Pada kepatuhan kita yang radikal untuk mematuhi-Nya itulah tergantung seluruh
kehidupan kita yang abadi.
1. Bahaya pengakuan percaya yang hanya verbal (Matius 7:21-23)
Orang-orang yang dilukiskan Yesus dalam ayat ini adalah mereka yang mengandalkan
bahwa pernyataan mereka kepada Yesus adalah jaminan keselamatan mereka.
Menurut mereka yang menentukan ialah apa yang mereka katakan kepada atau tentang
Yesus. Tapi menurut Yesus hal itu salah, "Bukan setiap orang yang berseru
kepadaKu : Tuhan, Tuhan!.. (Matius 7:21), " Pada hari yang terakhir banyak orang
akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan... (Matius 7:22).
Disini Yesus menekankan bahwa kehidupan kita yang abadi tidak ditentukan oleh
apa yang kita ucapkan kepada-Nya, melainkan oleh kenyataan apakah kita berbuat
sesuai dengan ucapan kita, apakah pengakuan verbal kita dibarengi oleh kepatuhan
moral kita. Mengapa pengakuan verbal kita bahwa Yesus adalah Tuhan, harus
dibarengi dengan kepatuhan moral?
Pertama, didalam pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan tercermin rasa hormat
dan kagum, bukan bermain-main dengan nama itu.
Kedua, Pengakuan Yesus adalah Tuhan "kurios" (Bhs. Yunani) dalam
perjanjian baru, menunjukan kepada pengertian Yesus sang hakim yang menyelidiki
isi hari setiap manusia.
Ketiga, pengakuan percaya ini berapi-api, bukan suam-suam kuku, dan
menarik perhatian ublik pada bobot dan kualitas kesetiaan kepada Yesus.
Patut disayangkan adanya segelintir "Pelayan Tuhan" yang ketika
berkhotbah di depan orang banyak nekad mengklaim mereka berbicara atas Nama
Yesus dan bahkan melakukan hal-hal spektakuler seperti bernubuat, mengusir setan,
dan banyak mujizat yang menakjubkan.
Dan tidak ada alasan untuk meragukan klaim mereka itu, sebab "rupa-rupa
perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat" akan dikerjakan mereka, dan bahkan
oleh Kristus-Kristus palsu dan nabi-nabi palsu (Matius 24:24, 2 Tesalonika
2:9,10).
Klaim mereka tidak salah, namun semuanya keliru karena itu adalah ucapan-ucapan
tanpa kebenaran, pengakuan percaya tanpa kenyataan. Apa yang mereka klaim (mengaku
percaya) tidak akan menyelamatkan dihari penghakiman nanti.
Yesus berfirman : "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripada-Ku, kamu
sekalian pembuat kejahatan!" Sebab meskipun mereka telah memakai nama-Nya
dengan bebas, namun Ia tidak tahu siapa mereka itu. Mengapa hal ini terjadi?
Karena engakuan percaya mereka hanya verbal,tanpa moral. Hanya dengan mulutnya
saja, tapi tidak nyata dalam kehidupan mereka.
Mereka menyebut Yesus 'Tuhan, 'Tuhan' tapi tidak pernah tunduk kepada
ketuhanan-Nya. Alasan Kristus Sang Hakim mengenyahkan mereka dari samping-Nya,
ialah karena mereka pembuat kejahatan.
Mereka bisa saja mengklaim telah melakukan pelayanan-pelayanan yang hebat, namun
perilaku mereka sehari-hari adalah jahat. Misalnya, memakai nama Yesus untuk
popularitas, fasilitas, meraup keuntungan, kemapanan, dll.
Perlu kita camkan bahwa Tuhan Yesus tidak terkesan oleh kata2 saleh kita. Ia
menuntut bukti kesejatian pengakuan kita dalam perbuatan yang didasari kasih.
Berbahagialah hai pelayan Tuhan yang telah dan sedang melakukan perkara2 ajaib
dalam nama Yesus, namun tetap sederhana, bersahaja, bahkan miskin dan tidak
popular di hadapan manusia.
2. Bahaya pengakuan percaya yang semata-mata berdasarkan
pengetahuan/intelektual (Matius 7:24-27)
Dalam Matius ayat 21-23, Yesus mempertentangkan antara orang yang
'mengatakan' dan 'melakukan' perintah-Nya, Ia mempertentangkan antara orang
yang 'mendengar' dan 'melakukan' perintah-Nya.
Disatu pihak Yesus menandaskan bahwa ada "orang yang mendengar perkataan-Ku
ini dan melakukannya (Matius 7:24), dan di pihak lain "Orang yang
mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya (Matius 7:26).
Lalu Ia mempertentangkan antara pendengar-Nya yang patuh dan yang tidak patuh
melalui perumpamaan dua orang yang mendirikan ruah (Lukas 6:46-49) Si
Bijaksana menggali dalam-dalam (Lukas 6:48) dan mendirikan rumahnya di atas
batu. Si bodoh tidak mau tahu tentang fondasi, dan sudah puas untuk mendirikan
rumah diatas pasir.
Nampak dari luar kedua bangunan rumah itu tidak ada bedanya. Hanya ketika turun
hujan dan badai menerpa, kedua bangunan rumah itu, barulah nyata bedanya. Sebab
rumah yang di atas batu itu mampu bertahan terhadap angin ribut, sedangkan rumah
diatas pasir itu runtuh dan rusak berat.
Demikian pula orang Kristen, baik yang sejati maupun yang palsu, kelihatannya
serupa, sama-sama ke Gereja, mendengarkan khotbah, membaca buku-buku rohani
bahkan sama-sama melayani Tuhan.
Kita sulit membedakannya. Namun ketika badai, krisis atau malapetaka menimpa,
tersingkaplah yang sesungguhnya.
Kebenaran yang Yesus cecar dalam ayat2 ini bukan apakah kita telah mendengar,
dan mempelajari perkataan-Nya, merenungkan, dan menghafalnya melainkan apakah
kita melakuka apa yang telah kita ketahui melalui firman-Nya.
Dengan kata lain, apakah kehadiran Yesus sebagai Tuhan sebagaimana kita akui,
menjadi nyata dalam kehidupan kita. Itulah yang terpenting.
Penutup
Isu perikop ini yaitu ilihan hidup yang radikal. Yang ditaruh Yesus dihadapan
pengikut-Nya bukanlah sebagai sederet aturan etis yang mudah dituruti, melainkan
seperangkat nilai dan konsep yang berbeda sama sekali dari yang didambakan
dunia.
Ia memanggil kita untuk menolak kebudayaan sekuler dan mengimbanginya dengan
kebudayaan Kristiani (Khotbah di bukit). Dunia ini diibaratkan sebagai makanan
yang membusuk, penuh dengan kuman2 penyebab disintegrasi; pengikut Yesus harus
berfungsi sebagai "garam yang menghentikan proses pembusukan itu. Dunia adalah
tempat yang gelap, hidup dalam bayang2 yang kelam; pengikut Yesus harus menjadi
"terang" yang mengusir kegelapan dan kekelaman.
Hal ini bisa terjadi jika pengikut Yesus memilih untuk melakukan perkataan-Nya
dengan cara mengubah moralnya sesuai dengan pengakuan percayanya dan menjadikan
Yesus sebagai realitas dalam hidupnya.

|