CILUKBA "Kecil-kecil untuk Bapa"
CILUKBA
Proyek Filipus untuk Anak di bawah enam tahun
Dapatkah "Anak Baeta" menyambut Tuhan Yesus dalam hidupnya? Ya, DAPAT! Bagaimanakah cara menjelaskannya dengan benar dalam konteks anak Baeta?

~ more ~
RHEMA "Masa Depan Anak Anda"
RHEMA
Projek Filipus untuk Anak
Salah satu penentuan masa depan anak yang penuh dengan kebahagiaan adalah "Kecerdasan spiritual"

~ more ~
REMODIA "Remaja Yg Oke di hadapan Allah"
REMODIA
Proyek Filipus untuk remaja
Ketika menyebut anak remaja pada umumnya kesan yang melekat adalah sosok narkotis, pemberontak, free sex, pornografi, 'amburadul

~ more ~
PASCAL "Pemuda Setia Baca Alkitab"
PASCAL
Proyek Filipus untuk Kaum Muda/ Mahasiswa
seri "PASCAL" adalah panduan Pemahaman Alkitab untuk Pemuda dan Mahasiswa.

~ more ~
REMODIA "Remaja Yg Oke di hadapan Allah"
JASIMARU
Proyek Filipus untuk Orang Dewasa (Umum)
Buku JASIMARU ini adalah panduan pemahaman Alkitab bagi perorangan maupun kelompok kecil.

~ more ~
ADIMITRA
ADIMITRA
Proyek Filipus untuk Pengusaha/Profesional
Seri ADIMITRA adalah panduan pemahaman Alkitab bagi para pengusaha/profesional.

~ more ~
Memberi Kekuatan disaat Anda Lemah
SAHABAT
Proyek Filipus untuk Orang Sakit
Sakit Penyakit membuat menderita bagi yang mengalaminya. Tidak seorangpun dapat menghindari penderitaan saat sakit penyakit menyerang tubuhnya.

~ more ~
BAHTERA
BAHTERA
Proyek Filipus untuk Keluarga
Seri BAHTERA (Bahagia dan Sejahtera Keluarga Bersama Allah) adalah panduan pemahaman Alkitab untuk keluarga.

~ more ~
YAYASAN SUMBER SEJAHTERA

Pembacaan : Mazmur 90 : 10-12

Oleh : Pdt.Andreas Kustono, S.Th.

Mazmur 90 merupakan karya sastra yang kuno dari seorang tokoh masyarakat, pemimpin politik, militer dan pemimpin agama, yang bernama Musa. Musa tidak dapat kita abaikan begitu saja, sebab baik agama Yahudi, Kristen maupun Islam sangat menghargai Musa dan karyanya. Mazmur ini memberikan ringkasan arti hidup dan makna eksistensi manusia di dunia serta penggembalaan Allah di tengah penderitaan dan bencana.

1. Kita harus dapat melihat segala kemungkinan keadaan dan kesulitan yang paling jelek (ayat 10).

“Masa hidup kami tujuh puluh tahun…..dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan…” Hidup manusia penuh dengan penderitaan dan keluhan. Ini bukan suatu konsep yang pesimis atau negatif. Maksudnya, Musa mengajak kita untuk melihat segala kemungkinan keadaan dan kesulitan yang paling jelek, tapi kita juga harus berani bertindak dengan iman menghadapi dan menyelesaikan segala kesulitan itu. Kita tidak boleh menjadi pesimis yang tidak berpengharapan.

2. Jangan mempermainkan kekudusan TUHAN (ay.11)

“Siapakah yang mengenal kekuatan-Mu dan takut kepada gemas-Mu?” Maksudnya siapa yang benar-benar sadar akan ‘kemarahan’ TUHAN? Ini bukan berarti TUHAN cepat dan mudah marah, melainkan ‘kemarahan-Nya’ sudah dekat sekali, sebentar lagi akan dinyatakan. Kalau Tuhan masih sabar, bukan berarti Dia memperbolehkan kita berbuat dosa terus-menerus, bukan berarti Dia kompromi atau setuju dengan perbuatan jahat kita , melainkan Dia memberikan kesempatan supaya kita bertobat. TUHAN yang suci dan adil pasti akan menghukum setiap perbuatan dosa. Sangat disayangkan jika ada gereja masa kini tidak suka membicarakan ‘kemarahan’ TUHAN. Mereka lebih suka mengkhotbahkan tentang cinta TUHAN dan berkat TUHAN.

3. Solidaritas dalam kerapuhan hidup adalah hidup bijaksana (ay.12)

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga beroleh hati bijaksana.” Musa menyadari bahwa hidup ini fana dan rapuh. Oleh sebab itu Musa setiap saat memohon kepada Tuhan agar dapat menjalani hidup ini dengan bijaksana sekalipun di dalam kefanaan (rapuh). Ada tiga cara menjalani hidup yang bijaksana. Pertama, sadar bahwa setiap tahun hidupnya berkurang. Karena itu setiap hari dianggap sebagai kesempatan untuk menjalankan kewajiban dengan bertanggung-jawab kepada Tuhan. Setiap hari kita merobek penanggalan kita, berarti hidup kita sudah kurang satu hari. Kedua, melakukan pekerjaan lebih dari satu dalam waktu bersamaan. Inilah cara hidup orang bijaksana yang menggunakan waktu dengan sistem kali. Artinya kita dapat melatih diri bagaimana dalam waktu terbatas bisa mengerjakan pekerjaan yang lebih banyak atau memakai waktu yang sedikit untuk mencapai hasil yang lebih besar, yang bernilai kekal. Ketiga, membagi-bagikan hidup. Artinya kita harus secepatnya memberikan atau membagi-bagikan kepada lebih banyak orang segala sesuatu yang kita meiliki. Jika kita memiliki sesuatu dan kita memonopolinya untuk diri kita pribadi, maka kita akan mati dan apa yang kita miliki itu akan dikuburkan bersama diri kita. Secara singkat, makna ayat ini adalah solidaritas dalam kerapuh hidup kita.

Refleksi firman dalam rangka solidaritas di tengah-tengah bencana yang bertubi-tubi. Sebagai orang yang pernah tidur di pinggir jalan (hanya dua hari) dengan para korban gempa tektonik di Desa Banjarejo -Kedung Ampel Kec. Cawas – Kab. Klaten (Jateng) dengan maksud bersolidaritas dengan Saudara-saudara-ku yang sedang menghadapi musibah, ada perenungan yang mengusik pikiran saya, apa relevansi iman (agama) di tengah-tengah bencana yang bertubi-tubi ini? Pada umumnya, bencana ditanggapi beragam oleh manusia (orang Kristen).

Pertama, bencana dan penderitaan yang manusia alami adalah hukuman Allah atas dosa-dosa manusia. Para korban (orang yang menderita) adalah manusia berdosa. Kelemahan jawaban ini adalah Allah digambarkan sebagai penghukum yang mengerikan dan manusia cenderung menyalahkan diri sendiri. Kedua, bencana dan penderitaan sebagai cara Allah mendidik umat-Nya. Kelemahan jawaban ini adalah ketika bencana dan penderitaan menewaskan semua keluarga, siapakah yang Allah didik melalui bencana itu? Tidak ada!, Ketiga, Allah memiliki alasan yang tidak dapat dipahami oleh manusia. Rasionalitas manusia terlalui kecil untuk memahami kemahakuasaan Allah. Kelemahan jawaban ini adalah manusia hanya bisa pasrah terhadap kesewenangan Allah. Keempat, Allah tidak pernah mengirimkan penderitaan (bencana) yang lebih berat dari kekuatan seseorang. Kelemahan jawaban ini banyak orang yang gagal menanggung pencobaan yang dialami, malah menjadi putus asa bahkan bunuh diri.

Lalu bagaimana menyikapi penderitaan(bencana) secara bijaksana . Kita harus sadar bahwa bencana itu menimpa siapa saja tanpa peduli orang jahat atau taat. Justru melalui bencana itu kita diingatkan bahwa kita semua, manusia dan dunia ini rapuh. Kita terancam oleh bahaya kolektif, baik bencana alam maupun bencana yang dibuat manusia. Pengakuan pada kerapuhan kolektif ini adalah jalan terbaik untuk membangun solidaritas sosial. Kita tidak dapat menghadapi bencana itu sendiri. Kita bisa menghadapinya secara bersama-sama berdasarkan solidaritas persaudaraan dan kemanusiaan kita.

Karena itu di dalam kerapuhan hidup ini, kita sadar bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menjalankan kewajiban apa saja dengan bertanggung-jawab kepada Tuhan memakai waktu yang sedikit untuk mencapai hasil yang lebih besar yang bernilai kekal, dan kita harus secepatnya memberikan atau membagi-bagikan kepada lebih banyak orang segala sesuatu yang kita miliki. Singkatnya, mari kita bersolidaritas kepada sesama di dalam kerapuhan kita.