
Oleh : Sulistiya Bekti Parmanta, S.Pd.
Belum lama ini sebuah stasiun televisi swasta menayangkan sebuah acara kuis yang berhadiah milyaran rupiah.
Dalam tayangan tersebut diperlihatkan ekspresi kegembiraan dua orang ibu yang berhasil memenangkan hadiah uang tunai sebesar dua milyar rupiah.
Yah, siapa yang tidak histeris saat mendapatkan rejeki nomplok.
Saat ini fenomena banjir hadiah melanda dunia bisnis. Berbagai hadiah menarik baik berupa uang tunai, barang maupun iming-iming pergi ke luar negeri sudah mewabah.
Rupanya pelaku bisnis menangkap gejala perilaku masyarakat yang komsumtif serta menginginkan segala sesuatu secara instant.
Semua orang pasti tidak akan menolak jika mendapatkan banjir hadiah. Tetapi bagaimana jika yang diterima masyarakat adalah banjir lumpur.
Bukan banjir air tetapi banjir lumpur panas. Bukan lumpur yang dihasilkan dari sawah. Bukan lumpur yang dapat kita jadikan tempat bermain,
melainkan banjir lumpur panas bersuhu sekitar 60 derajat yang keluar dari perut bumi dan hingga tulisan ini dibuat belum berhasil dihentikan.
Pasti tidak ada seorang pun yang bersedia menerimanya.
Tetapi inilah faktanya. Saat ini 4 desa di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur harus rela menerima banir lumpur.
Desa Renokenongo, Kedung Bendo, Siring dan Jatirejo menjadi korban kesalahan fatal manusia. Ribuan rumah terendam lumpur,
ribuan orang terpaksa mengungsi, jalur transportasi putus dan menimbulkan kerugian secara ekonomi, pabrik-pabrik di sekitar lokasi
tidak dapat beroperasi sehingga banyak karyawan yang kehilangan pekerjaannya. Paling tragis adalah ledakan pipa gas yang menimbulkan
korban jiwa yang tidak sedikit.
Apa sebenarnya penyebab bencana ini? Pada awalnya Lapindo bersembunyi di balik gempa tektonik Yogyakarta yang terjadi pada hari yang sama.
Hal ini didukung pendapat yang menyatakan bahwa pemicu semburan lumpur (liquefaction) adalah gempa (sudden cyclic shock) Yogya yang mengakibatkan
kerusakan sedimen. Namun, hal itu dibantah oleh para ahli, bahwa gempa di Yogyakarta yang terjadi karena pergeseran Sesar Opak tidak berhubungan dengan Surabaya.
Kemudian fakta yang mengemuka adalah kesalahan prosedural dengan tidak memasang casing pada saat pengeboran.
Kesalahan manusia ternyata menjadi penyebab utama mimpi buruk warga Porong, Sidoarjo. Satu kesalahan yang menimbulkan efek bola salju
karena menimbulkan akibat fatal yang multidimensi. Kesalahan adalah sebuah tindakan yang tidak berdiri sendiri
melainkan sebuah tindakan yang bersifat kinetis karena akan menyodok sana sini.
Kasus yang at least membawa dampak luar biasa dapat berawal dari sebuah kesalahan kecil. Peristiwa yang mirip juga terjadi pada
diri Akhan bin Karmi dari Suku Yehuda. Akhan berbuat satu kesalahan yang menurutnya adalah kesalahan kecil yaitu mencuri barang-barang dari
bangsa yang telah ditaklukan (Yosua 6:1-27). Satu kesalahan yang menurutnya biasa-biasa saja.
Coba kita berpikir dengan pola pikir Akhan. Hidup dalam pengembaraan, penuh kekurangan, sedangkan di depannya ada hamparan harta benda
yang menggiurkan. Apa salahnya jika mengambil sebagian kecil dari harta tersebut. Tidak ada efeknya dan tidak akan merugikan siapapun juga.
Tetapi bagaimana dengan pola pikir Allah. Bagi Allah pencurian adalah tindakan kekejian. Apalagi harta milik orang yang tidak mengenal Allah.
Kemuliaan Allah tergantikan oleh sebagian kecil harta orang kafir. Akhan tidak menyadari bahwa tindakannya menjadi noktah hitam bagi bangsa Israel.
Akibat yang ditimbulkan sangat fatal. Bangsa Israel babak belur dihajar bangsa Ai yang kekuatannya lebih kecil.
Korban berjatuhan. Harga diri bangsa Allah menjadi hancur.
Apa yang Anda pikirkan tentang sebuah kesalahan kecil? Manusiawi? Tidak berarti? Atau menjadi batu sandungan bagi hidup Anda?
1. Allah tidak pernah berkompromi dengan kesalahan.
Sebagian manusia mencoba berkompromi dengan dosa. Jika besar, Tuhan akan perhatikan, Jika kecil Tuhan terlalu sibuk dengan urusan-urusan sepele.
Jadi tidak ada masalah jika kita berbuat dosa yang tidak menimbulkan efek besar. Gosip atau berbicara kasar mungkin kita anggap sebagai hal yang biasa
dan tidak berpengaruh besar. Sebagian bahkan menjadikan gosip sebagai kegemaran. Orang berpikir bahwa dosa itu adalah membunuh, berzinah, mencuri, berdusta.
Namun pola pikir Yesus Kristus berbeda dengan pola pikir mereka (Matius 5:21-45).
2. Dosa kecil menjadi alarm anak Tuhan menjaga kekudusan hidupnya.
Kesalahan kecil menjadi bukti bahwa manusia, siapapu mereka tidak akan steril dari dosa. Bahkan orang yang hidup dalam Tuhan
sekalipun tidak mungkin mampu menjaga seumur hidupnya bebas dari dosa. Apakah jika menjadi Kristen maka dengan serta merta akan meninggalkan
rokok dan judi, kesal, marah, fitnah, kata-kata kotor? Kesalahan-kesalahan kecil menjadi peringatan dini sebelum bencana besar melanda hidup kita.
Ketika kita berbuat salah maka kesalahan itu memberi "Warning" secara cepat dan dengan segera mengoreksi hidup kita.
Kesalahan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidup manusia. Siapapun kita pasti pernah berbuat salah. Tetapi anak Tuhan memiliki kiat
jitu agar tidak menjadikan kesalahan itu menjadi kebiasaan yang menggerogoti hidup, merusak dan akhirnya membunuh kita.
Kesalahan dapat menjadi "bagian positif" hidup kita agar menyadari bahwa kita manusia lemah dan hanya dapat mengandalkan Tuhan.
Banjir Lumpur Lapindo menjadi cermin bahwa kita tidak dapat berkompromi dengan kesalahan. Kasus Akhan menjadi pelajaran bagi kita bahwa
kebenaran tidak dapat kita pahami menurut pola pikir manusia.
Jadi belajarlah dari kesalahan.
[ ARSIP OPINI ]
|