
Oleh : Sulistiya Bekti Parmanta, S.Pd.
Tanganya terkepal, matanya memerah, giginya gemetar. Ekspresi kemarahan begitu kental menguasai laki-laki muda itu. Sementara seorang wanita muda tak kalah garangnya membalas tatapan laki-laki itu. Rupanya perang mahabarat siap mengguncang rumah tangga muda tersebut. Keegoisan telah menjadi bahasa sederhana yang siap dimuntahkan. Kata-kata makian, cacian, hujatan, bahkan kutukan dan ancaman memborbadir kedua belah pihak. Rasanya berbeda sekali dibanding pada saat masih berpacaran dulu. Masing-masing pihak berusaha menjaga perasaan pasangannya. Tetapi sekarang semua telah berubah.
Mengapa terjadi perselisihan dalam hidup kita? Didalam rumah tangga, dalam komunitas masyarakat, dalam hubungan dengan teman, ditempat kerja, bahkan dalam gereja. Semua tempat bisa menjadi medan perang terbuka disetiap saat tinggal mencari pemicunya.
Semua berawal dari perbedaan. Perselisihan muncul manakala apa yang kita inginkan tidak sama dengan keinginan orang lain. Parahnya, masing-masing pihak merasa bahwa dirinyalah yang paling benar. Perbedaan yang disertai pemaksaan kehendak akan meningkatkan adrenalin manusia, sehingga timbulah amarah. Jika demikian salahkah jika kita berbeda dengan orang lain?
Pernahkah anda membayangkan hidup tanpa perbedaan? Semuanya sama, baik wajah, postur tubuh, kebiasaab, karakter, bahkan suarapun sama persis. Kesan yang muncul adalah kejebuhan, dunia tanpa variasi, monoton, dan pada akhirnya akan mempengaruhi produktivitas manusia itu sendiri. Bayangkan saja jika selama 24 jam kita bertemu dengan orang yang sama. Tentu kita menjadi bosan dan itu mempengaruhi semangat hidup. Bisa bisa tidak ada lembaga pernikahan karena orang bisa berhubungan dengan siapa saja. Toh tidak ada bedanya. Atau bayangkan juga polisi yang akan kesulitan mengejar pelaku kejahatan karena semua orang berwajah sama. Lalu lintas menjadi kacau karena semua lampu pengatur lalu lintas berwarna sama. Orang tua akan kebingungan membedakan anaknya dengan anak orang lain. Bayangkan apa jadinya jika dalam dunia ini hanya ada satu warna tanpa warna lain. Maka tidak ada orang Eropa, Afrika, Cina, Indonesia dan sebagainya, karena semua berwarna kulit sama. Persamaan yang absolute akan menimbulkan kekacauan.
Dengan demikian perbedaan adalah sebuah keindahan. Mari kita ingat kembali bagaimana Tuhan juga menciptakan perbedaan di taman Eden "...diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereke" (Kejadian 1:27). Tuhan menciptakan perbedaan untuk keselarasan dan kesempurnaan hidup. Pada saat manusia Adam bertemu dengan Hawa, maka ia melihat perbedaan sebagai bagian kesempurnaan hidup. "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku" (Kejadian 2:23). Harmoni kehidupan akan terjaga dan berjalan sesuai dengan jalurnya. Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Mandarin "Bai Hua Qi Fang", Let hundred of flowers blossom. Artinya, hidup kita ini bagaikan sebuah taman yang akan menjadi sangat indah, apabila di sana beraneka warna bunga yang serentak tumbuh dan mekar indah dan tidak membosankan.
Persoalan menjadi muncul ketika manusia mulai mempersoalkan perbedaan. Lihat saja di sekeliling kita, begitu banyak perselisihan, permusuhan bahkan orang kehilangan harta dan nyawa karena sebuah perbedaan. Kalau kita menonton acara infotainment di televisi, begitu banyak artis yang bercerai dengan alasan sudah tidak ada kecocokan lagi. Coba anda pikirkan, dimana didunia ini ada persamaan sifat, karakter, keinginan, kebiasaan yang sama persis? Jika perbedaan dan ketidakcocokan dijadikan alasan yang sah, maka bersiap-siaplah lembaga peradilan untuk mengurus perceraian setiap hari dengan jumlah fantastis.
Persoalan yang muncul akibat perbedaan dapat terjadi dimana saja. Dalam keluarga misalnya, hubungan antara anak dan orang tua menjadi terancam manakala memandang persoalan dengan kacamata berbeda. Sang anak tidak ingin dianggap sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Sedangkan orang tua yang khawatir terhadap anaknya memberikan proteksi berlebihan. Akibatnya anak memberontak dan timbulah perselisihan. Dalam hidup bermasyarakat juga sering timbul persoalan yang notabene sama. Sebuah keluarga kurang bersosialisasi dengan masyarakat karena kesibukan kerja, dan masyarakat cenderung menganggap keluarga tersebut menutup diri.
Persoalan perbedaan ini akan lebih berbahaya jika sudah berbicara soal ideologi, paham yang dianut. Antar Gereja sering muncul kecurigaan karena perbedaan paradigma. Hubungan jemaat dengan majelis, majelis dengan pendeta, pendeta dengan jemaat sering bermasalah karena perbedaan cara berpikir. Dan jika ditanya secara pribadi masing-masing memiliki alasan yang dianggap kuat. Akhirnya gereja tidak ubahnya dengan acara infotainment yang mengungkit persoalan orang lain, kasak kusuk, gosip dan sebagainya.
Tengok juga terorisme yang melanda dunia secara makro dan Indonesia secara mikro. Semua muncul karena perbedaan ideologi. hubungan antar umat beragama terancam karena perbedaan paradigma. Umat Tuhan diberi mandat penuh oleh Tuhan untuk mewartakan kebenaran Allah, tetapi ditanggapi berbeda oleh umat beragama lain, yang menganggap Kristenisasi menjadi momok menakutkan. Potensi konflik horizontal yang bernuansa SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) sangat kita rasakan. Bhinneka Tunggal Ika yang dahulu menjadi kebanggaan sekarang menjadi ancaman.
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa kita hidup di alam perbedaan. Perbedaan tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang satu tetapi berbeda. Di satu sisi perbedaan diciptakan Tuhan untuk keharmonisan dan keselarasan hidup. Tetapi ketika perbedaan itu berada di tangan manusia, maka jadilah potensi konflik.
Persoalannya adalah bagaimana kita sebagaimana anak Tuhan menempatkan perbedaan secara bijak ditengah masyarakat yang pluralis.
Perbedaan adalah Anugerah
Ketika Tuhan menciptakan dunia ini, Firman Tuhan mengatakan, "Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Tuhan senantiasa menempatkan perbedaan sebagai anugerah-Nya. Bandingkanlah pada saat Tuhan akan memulai karya ciptaan-Nya "Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air" (Kejadian 1:2). Berdasarkan ayat tersebut kita dapat membayangkan suasana kegelapan, kekosongan, dan dunia tanpa bentuk. Kemudian perhatikan ayat pada saat Allah mengakhiri karya ciptaan-Nya. "demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan mengkuduskannya dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu" (Kejadian 2:1-3). Dari hasil ciptaan tersebut Tuhan menghadirkan berkat dan kekudusan.
Berkat Tuhan tidak diberikan pada saat dunia tidak mempunyai bentuk, tidak memiliki isi. Dengan kata lain berkat Tuhan tidak turun ketika tidak ada perbedaan. Semuanya sama, kosong dan gelap. Berkat Tuhan diberikan dalam perbedaan, dalam dunia yang penuh warna.
Dengan demikian kita harus memandang perbedaan sebagai anugerah. Dengan perbedaan kita dapat mengagumi anugerah Tuhan lewat beragam flora, fauna, alam semesta, termasuk juga perbedaan karakter.
Perbedaan adalah Saling Melengkapi
"Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang menumbuhkan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang menumbuhkan" (1 Korintus 3:6-7).
Sebuah jarum jam berdetak tidak bekerja sendiri. Ia adalah sebuah hasil kerja dari sebuah mata rantai yang sebenarnya digerakan oleh gerigi kecil yang memiliki sumber energi baterai. Gerigi kecil itu secara kinetis akan menggerakan komponen lain. Akhirnya kita dapat mengenali waktu secara tepat. komponen-komponen tersebut tidak mampu bekerja sendiri. Hidupnya dipengaruhi dan mempengaruhi komponen lain.
Demikian pula dengan hidup kita. Kita tidak akan mampu menjalani hidup sendiri. Hidup adalah sebuah mata rantai yang saling melengkapi dan itu dimungkinkan jika ada perbedaan. Pada akhirnya akan berujung pada satu sumber yaitu Allah sendiri. Itulah yang diungkapkan Paulus kepada jemaat Korintus. Pelayanan dimata Paulus adalah sebuah mata rantai dimana satu pihak tidak boleh menonjolkan diri, menganggap paling berjasa dan paling memiliki peranan. Demikian pula dengan pelayanan kita. Kita memiliki tugas yang berbeda. Ada yang menjadi pemimpin, ada yang menjadi staf. Berbeda tugas tetapi memiliki tujuan yang sama. Maka sangat tidak bijaksana jika dalam pelayanan menganggap diri paling penting dan menuntut hak lebih dari orang lain.
Perbedaan adalah media pembentukan karakter
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan..." (Filipi 2:5-6).
Pengalaman hidup dapat membentuk karakter seseorang. Karakter tersebut bisa positif, dalam pengertian mampu membangun hidupnya sendiri dan hidup orang lain atau sebaliknya bisa membentuk karakter negatif, yang tidak membangun hidupnya sendiri maupun hidup orang lain. "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya (Amsal 27:17).
Mau tidak mau, suka tidak suka dalam hidup kita akan bertemu dengan orang yang berbeda. Berbeda segalanya! Baik fisik maupun mental. Keadaan sering menjadi runyam manakala kita bertemu dengan orang yang tidak sama dengan kita. Ide yang berbeda, paradigma yang berbeda, bahkan hal-hal sederhana mulai cara berbicara, cara berjalan, dsb. Suami yang pendiam akan bertemu dengan istri cerewet, pendeta yang liberal akan bertemu dengan majelis konservatif, orang tua kolot akan bertemu anak yang mendambakan kebebasan, bos yang otoriter akan bertemu dengan staf yes man. Bayangkan saja jika kita ngotot dengan keinginan kita, egois dan tidak mau tahu pendapat orang lain, maka akan banyak orang menderita sakit jiwa. Perbedaan akan membentuk karakter kita untuk humble, sabar, mampu mengendalikan diri, mengalah, mendahulukan kepentingan orang lain. Yesus yang memiliki kesetaraan dan dalam rupa Allah (morphe), memiliki kesederhanaan, kerendahan hati, dan tidak menggunakan kuasa-Nya untuk memaksakan kuasa-Nya untuk memaksakan kehendak-Nya melainkan menjadi serupa dengan manusia (schema).
Perbedaan adalah Saling Menghargai
"Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya" (Roma 14:1)
Perbedaan adalah sesuatu yang tidak dapat kita hindari. Jika kita menjadikan perbedaan sebagai konflik, maka kita telah menghakimi orang lain dan menempatkan diri kita menjadi yang paling benar.
Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudara seimanmu? Atau mengapa engkau menghina saudara seimanmu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah" (Roma 14:10).
Berulangkali Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak menghakimi orang lain (Misalnya Matius 7:1-5). Mengapa? Karena kebenaran hanya milik Tuhan sendiri. Jika kita menghakimi orang lain maka kita telah mengambil hak Tuhan atas hidup orang lain. Apa yang perlu kita lakukan? Hargailah perbedaan. Dengan menghargai orang lain, maka secara tidak langsung kita menghargai mandat Allah atas orang tersebut. Namun bukan berarti kita bersikap pasif terhadap kesalahan orang lain. Yang perlu kita lakukan adalah menghindari penghakiman dan memberikan stereotype absolute terhadap orang lain.
Kita perlu menjadikan hidup kita sebagai puzzle yang saling membutuhkan, melengkapi dan menghargai.
[ prev - next ]
|