CILUKBA "Kecil-kecil untuk Bapa"
CILUKBA
Proyek Filipus untuk Anak di bawah enam tahun
Dapatkah "Anak Baeta" menyambut Tuhan Yesus dalam hidupnya? Ya, DAPAT! Bagaimanakah cara menjelaskannya dengan benar dalam konteks anak Baeta?

~ more ~
RHEMA "Masa Depan Anak Anda"
RHEMA
Projek Filipus untuk Anak
Salah satu penentuan masa depan anak yang penuh dengan kebahagiaan adalah "Kecerdasan spiritual" anak. Bagaimanakah menanamkan 'kecerdasan spiritual' anak sejak dini?

~ more ~
REMODIA "Remaja Yg Oke di hadapan Allah"
REMODIA
Proyek Filipus untuk remaja
Ketika menyebut anak remaja pada umumnya kesan yang melekat adalah sosok narkotis, pemberontak, free sex, pornografi, 'amburadul dan sederetan kebiasaan yang negatif lainnya.

~ more ~
PASCAL "Pemuda Setia Baca Alkitab"
PASCAL
Proyek Filipus untuk Kaum Muda/ Mahasiswa
seri "PASCAL" adalah panduan Pemahaman Alkitab untuk Pemuda dan Mahasiswa. Pemahaman Alkitab ini dapat dilakukan perorangan maupun kelompok.

~ more ~
Jawaban, Siapa Tuhan Itu?, Temuan Baru
JASIMARU
Proyek Filipus untuk Orang Dewasa (Umum)
Buku JASIMARU ini adalah panduan pemahaman Alkitab bagi perorangan maupun kelompok kecil. Buku ini dirancang untuk menolong Anda menemukan damai, kebahagiaan dan tujuan hidup yang sejati.

~ more ~
ADIMITRA
ADIMITRA
Proyek Filipus untuk Pengusaha/Profesional
Seri ADIMITRA adalah panduan pemahaman Alkitab bagi para pengusaha/profesional.

~ more ~
BAHTERA
BAHTERA
Proyek Filipus untuk Keluarga
Seri BAHTERA (Bahagia dan Sejahtera Keluarga Bersama Allah) adalah panduan pemahaman Alkitab untuk keluarga. Pemahaman ini dapat dilakukan secara bersama-sama dalam keluarga maupun pribadi.

~ more ~
YAYASAN SUMBER SEJAHTERA

Oleh : Sulistiya Bekti Parmanta, S.Pd.

Ini bukanlah berita luar biasa. Ini hanya sebuah berita sensasional yang sebentar lagi akan dilupakan orang. Ini hanyalah pertikaian dua anak kecil. Raju dan Armansyah. Raju, anak yang baru saja menginjak usia 8 tahun terlibat perkelahian dengan Armansyah alias Eman pada tanggal 2 Agustus 2005. Pertengkaran yang biasa terjadi pada anak-anak. Tapi perkara kecil ini meledak saat Pengadilan Stabat, Langkat, Sumatera Utara menjadi pengadil.

Rupanya Indonesia telah memasuki era baru dalam bidang hukum. Inilah pengadilan pertama dengan seorang anak kecil sebagai terdakwanya. Di bawah bentakan dan tekanan dari jaksa dan hakim, si kecil Raju yang buta hukum itu bagaikan pelanduk dduk di tengah serigala. Tangisan Raju sebagai ungkapan rasa depresi, rasa takut dan stress tidak menyiutkan nyali para hamba hukum untuk tetap menempatkannya pada kursi terdakwa. Akhirnya Raju divonis bersalah, dihukum dan dikembalikan kepada orang tuanya.

Semua orang merindukan keadilan. Tapi keadilan hanya milik segelintir orang. Lebih celaka lagi keadilan sering salah alamat alias salah sasaran karena keadilan belum tentu menjadi milik orang yang berhak. Raju adalah saksi hidup dan keadilan yang salah alamat.
Ia telah merasakan bau rumah tahanan Pangkalan Brandan selama 14 hari sejak tanggal 19 Januari 2006, bercampur dengan tahanan dewasa. Raju kecil, yang hanya karena berselisih dengan temannya, disatukan dengan pelaku kriminal. Wajahnya yang lugu berbanding terbalik dengan wajah2 sangar lainnya.
Padahal secara tegas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak jelas-jelas melarang penahanan anak bersama dengan pelaku pidana dewasa. Dikuatkan lagi dengan UU No. 03 tahun 1977 dimana Pengadilan Anak merupakan pintu terakhir penyelesaian akhir kasus kenakalan anak.

Proses pengadilan yang lebih sadis dan jauh dari rasa keadilan juga pernah terjadi 2000 tahun yang lalu ketika Yesus yang tidak bersalah itu ditempatkan sebagai terdakwa dan dianggap sebagai musuh agama dan musuh negara. Berbeda dengan Raju yang dibela begitu banyak tokoh masyarakat seperti Kak Seto (Tokoh pemerhati masalah perlindungan anak), anggota DPR, dsb. Yesus sendirian, tidak dibela siapapun bahkan orang2 terdekatnya menyingkir darinya.
Jika Raju akhirnya boleh berdamai dengan Armansyah dan cerita berakhir dengan pembebasan, Yesus dipidana mati dan Ia mati dikayu salib.

Esensi apa yang membedakan pengadilan Yesus dan Raju?

1. Ketaatan berbuahkan penderitaan
Pada umumya penderitaan seseorang terjadi akibat ketidaktaatan. Seseorang harus menderita diabetes akibat ketidaktaatannya mengendalikan pola makan. Seseorang menderita kanker paru-paru karena kebiasaan merokok. Raju harus merasakan menjadi seseorang terdakwa karena tindakannya berselisih dengan temannya. Tapi Yesus menderita karena ketaatan kepada Bapa-Nya.
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib" (Filipi 2:8)

Beberapa kali ketaatan Yesus diuji. Iblis senantiasa mencari celah untuk menekan Yesus. Mulai dari pencobaan di padang gurun, sampai saat Yesus tergantung di kayu salib. Pencobaan iblis ialah menghindarkan Yesus dari penderitaan. Seseorang pasti menghindari penderitaan, tapi Yesus mengambil resiko jalan salib karena Bapa-Nya menghendaki demikian, sungguh ironis.

2. Yesus menderita karena kesalahan orang lain
Dalam dunia orang mengimani adanya hukum tabur tuai. Seseorang akan mengalami penderitaan, jatuh dalam masalah karena kesalahan yang dilakukan sendiri. Seorang gadis yang hidup dalam pergaulan bebas dan akhirnya hamil diluar nikah, mengalami penderitaan karena kesalahannya sendiri. Raju mengalami penderitaan karena kesalahannya sendiri. Tapi Yesus menderita bukan karena kesalahan-Nya melainkan kesalahan manusia.

Dalam kasus tertentu banyak kita jumpai orang yang menderita karena kesalahan orang lain, Yesus bukan sekadar menderita karena kesalahan seseorang, tapi kesalahan semua manusia. Bahkan bukan hanya itu, Yesus bukan korban konyol kesalahan, tetapi Dia melakukan dengan sadar dan dengan kesadaran itu Ia mengambil alih dosa yang seharusnya ditanggung manusia.
"Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya dan kesengsaraan kita yng dipikulnya" (Yesaya 53:4)

3. Penderitaan Yesus berkaitan dengan putusnya relasi Allah dan manusia
Penderitaan Raju merupakan sebab, sedangkan penderitaan Yesus adalah akibat. Kejatuhan manusia kedalam dosa menyebabkan manusia mengalami penderitaan. Dosa manusia pertama menyebabkan putusnya relasi Allah dengan manusia. Kecenderungan manusia adalah berbuat dosa, seperti yang dilakukan Raju. Tidak ada manusia yang steril terhadap dosa. Tidak ada manusia yang steril terhadap kecenderungan berbuat dosa.
"Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang mencari Allah..." (Roma 3:10,11)

Penderitaan Yesus mempunyai keterkaitan dengan dosa manusia. Jalan itu yang harus ditempuh. Beban dosa yang seharusnya ditanggung manusia Dia tanggung. Dari kasus Raju kita dapat belajar tentang kasih Allah. Hukum manusia dapat dijungkirbalikan, tetapi Allah memiliki hukum sendiri. Hukum itu nyata dalam peristiwa salib, barangsiapa percaya pada Yesus akan diselamatkan dan yang tidak percaya akan dihukum. Manusia tidak dapat menghindari persoalan. Penderitaan Yesus adalah teladan, agar kita meletakan persoalan kita pada jalur yang benar. Kita menderita karena konsekuensi mengikut Yesus dan bukan menderita karena kekonyolan kita sendiri. Sudahkah kita menderita dengan tepat?