
Oleh : Sulistiya Bekti Parmanta, S.Pd.
Saat ini kata tsunami telah menjadi phobia baru dalam masyarakat. Setelah Aceh luluh lantak karena gempa yang disusul dengan tsunami, masyarakat memberikan perhatian lebih. Tsunami bukan hanya sekadar dongeng atau film, tetapi sekarang nyata berada di sekitar kita terutama mereka yang tinggal di pesisir laut. Dalam sejarahnya, Indonesia telah berulang kali mengalami bencana tsunami. Di antaranya tsunami di Banyuwangi, Flores, Aceh dan Pangandaran.
Tsunami (津波bahasa Jepang yang berarti ombak besar di pelabuhan. Tsunami adalah istilah dalam bahasa Jepang yang pada dasarnya menyatakan suatu gelombang laut yang terjadi akibat gempa bumi tektonik di dasar laut. Magnitudo Tsunami yang terjadi di Indonesia berkisar antara 1,5-4,5 skala Imamura, dengan tinggi gelombang Tsunami maksimum yang mencapai pantai berkisar antara 4 - 24 meter dan jangkauan gelombang ke daratan berkisar antara 50 sampai 200 meter dari garis pantai.(bmg.co.id).
Sebenarnya Tsunami hanyalah salah satu bencana yang mengancam Indonesia. Ada begitu banyak bencana lain yang mengitari bumi nusantara. Secara geografis Indonesia berada di pertemuan lempeng eurasia, indo-australia dan lempeng pacific. Fakta ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kerawanan bencana gempa bumi yang sangat tinggi. Gempa di Aceh, Yogyakarta dan sekitarnya serta pantai selatan Jawa hanya contoh kecil.
Selain itu Indonesia berada pada sabuk gunung berapi yang terbentuk dari pertemuan lempeng bumi. Kondisi ini menyebabkan Indonesia sangat rentan terhadap bencana gunung meletus. Di Indonesia terdapat sekitar 129 gunung api aktif, sedangkan yang tidak aktif sekitar 500. Gunung api ini membentang sepanjang 7.000 kilometer, sabuk gunung api dari Aceh sampai Sulawesi Utara melalui Bukit Barisan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. Gunung api yang diketahui pernah meletus dalam sejarah digolongkan sebagai gunung api tipe A. Di Indonesia terdapat sekitar 75 gunung api tipe A, 21 di antaranya berada di Pulau Jawa.
Bencana-bencana di atas adalah bencana alam yang tidak didesain manusia. Bencana tsunami, gempa dan gunung meletus adalah peristiwa alam yang tidak dapat diprediksi oleh manusia. Tetapi ironisnya ada bencana yang didesain manusia. Kita sadari atau tidak spesies kita telah menjadi pelaku utama begitu banyak bencana di Indonesia. Banjir, tanah longsor, kebakaran hutan adalah contohnya. Dalam situsnya, Kementrian Lingkungan Hidup menyatakan ada 125 daerah yang rawan longsor dan banjir yang merata dari pulau Sumatera hingga Papua.
Fakta yang tersaji di atas adalah sebuah realita. Yah, realita bahwa kita hidup di tengah daerah yang rawan bencana. Kondisi ini dapat mengguncang iman orang percaya. Sebagai contoh, seorang anggota DPR yang notabene seorang paranormal dalam wawancaranya di sebuah media televisi mengungkapkan fakta yang didapatkan dari masyarakat Yogya. Dalam investigasi kecilnya ia menemukan kecenderungan dalam masyarakat yang mengaitkan masalah bencana dengan hal-hal bersifat magis.
Memang sungguh tidak menyenangkan hidup di tengah daerah rawan bencana. Berbagai reaksi dalam masyarakat muncul saat menyadari bahwa mereka tinggal di daerah rawan bencana. Reaksi yang muncul adalah ketakutan, putus asa, kehilangan pengharapan, lari pada hal-hal magis.
Pada saat ini ketakutan telah menjadi dunia sehari-hari. Ketakutan terhadap bencana alam yang sewaktu-waktu menimpa hanya merupakan salah satu bentuk ketakutan. Ketakutan manusia pada umumnya bisa dibagi dalam tiga jenis. Pertama takut kehilangan kesejahteraan hidupnya. Kedua takut ditinggal ataupun kehilangan orang yg kita kasihi. Dan ketiga ialah mereka takut akan keselamatan jiwanya sendiri maupun anggota keluarganya umpamanya takut dibunuh, tertimpa bencana, dsb-nya.
Pada saat manusia asyik dengan ketakutan-ketakutannya sendiri tanpa sadar manusia sedang berjalan dalam dunia takut itu sendiri. Ketakutan-ketakutan akibat ancaman kasat mata membuat manusia tidak menyadari ancaman yang tidak kasat mata. Takut melarat, takut sendirian, takut terancam jiwanya merupakan ancaman kasat mata. Tetapi hidup terus-menerus dalam ketakutan bahkan dikuasai rasa takut itu sendiri sebenarnya lebih mengerikan. Manusia dapat menghindari ketakutan kasat mata. Kita akan aman dari bencana tsunami jika tidak berada dalam zona bahaya, kita akan jauh dari kemelaratan jika hidup tertata baik, kita tidak akan ditinggalkan jika hidup dalam kesetiaan. Tetapi betapa sulitnya kita lari dari ketakutan itu jika rasa takut telah hidup, tinggal bahkan terintegrasi dengan hidup kita. Tidak ada tempat yang aman dari rasa kecemasan. Rasa takut adalah sebuah emosi yang begitu kuat namun tidak mampu untuk membuat kita bergerak. Kita akan menjadi seperti seorang anak kecil yang hidup dan pikirannya sangat terbatas.
Salahkah jika manusia memiliki rasa takut? Tuhan dapat membentuk manusia melalui rasa takut. Betapa mengerikannya dunia jika tidak ada rasa takut pada diri manusia. Rasa hormat, saling menghargai dan mempedulikan digantikan dengan kecurigaan, ancaman, tindakan destruktif. Tuhan menggunakan rasa takut pada manusia agar manusia tunduk pada otoritas Tuhan. Ia dapat menggunakan ketakutan manusia agar manusia berkembang imannya, mengakui kekuatan dan kemahakuasaan-Nya.
Realita bahwa kita hidup di tengah bencana kasat mata maupun yang tidak kasat mata membuat kita takut. Tetapi ketakutan kita harus diterjemahkan sebagai media Allah agar kita tunduk dan hidup dalam keberserahan. Bencana membuat kita takut tetapi bencana juga membuat kita memandang dari dimensi lain bahwa ada Tuhan yang dapat diandalkan dan kepada-Nya kita merendahkan diri.
[ prev - next ]
|